BOGOR, JABAR – Mimpi memiliki hunian nyaman di "Bali Resort," Rawa Kalong, Gunung Sindur, kini berubah menjadi mimpi buruk bagi banyak pemilik rumah. Banjir yang terjadi secara berulang bukan hanya merusak bangunan fisik, tetapi juga telah melumpuhkan nilai ekonomi properti, memaksa banyak warga untuk menyerah dan meninggalkan aset mereka ke balai lelang bank.
Banjir yang Terus Berulang
Dokumentasi yang berhasil dihimpun oleh warga menunjukkan pola kerusakan yang sistematis. Foto-foto dari tahun 2021 hingga Mei 2026 menjadi bukti bisu bahwa permasalahan infrastruktur di perumahan ini belum terselesaikan secara tuntas.
Hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi kerap menyebabkan genangan air yang merendam akses jalan utama hingga masuk ke halaman rumah. Bagi warga, kondisi ini bukan lagi sebuah insiden musiman, melainkan ancaman tetap yang merampas kenyamanan tinggal dan nilai investasi mereka.
Dari Hunian Idaman ke Aset "Mati"
Dampak dari banjir berkepanjangan ini menciptakan fenomena ekonomi yang memprihatinkan. Nilai jual properti di kawasan ini anjlok drastis jauh di bawah harga pasar. Rumah-rumah yang awalnya dibeli sebagai instrumen investasi atau hunian masa depan, kini justru menjadi beban finansial.
Banyak warga yang terjebak dalam posisi sulit; mereka tidak mampu melakukan renovasi total untuk meninggikan bangunan, namun juga tidak mampu lagi menanggung biaya perawatan di tengah kondisi lingkungan yang tidak layak. Akibatnya, banyak debitur memilih untuk melakukan walk away atau membiarkan rumah mereka menjadi kredit macet (Non-Performing Loan)
Gelombang Lelang Aset
Kondisi gagal bayar massal ini telah membuat sejumlah unit rumah di Bali Resort Rawa Kalong kini membanjiri daftar lelang di berbagai bank nasional, salah satunya adalah CIMB Niaga.
Properti-properti yang seharusnya menjadi aset berharga, kini dilelang dengan harga yang jauh dari nilai awal perolehan. Ironisnya, rumah-rumah ini seringkali berakhir menjadi aset terbengkalai, karena minimnya minat beli akibat reputasi kawasan yang "rawan banjir."
Hal ini menciptakan lingkaran setan: rumah terbengkalai tidak terawat, lingkungan semakin terlihat kumuh, dan harga properti semakin jatuh.
Tuntutan akan Solusi
Kondisi ini memicu keresahan mendalam bagi para pemilik rumah yang masih bertahan. Warga menuntut adanya pertanggungjawaban konkret dari pihak pengembang terkait sistem drainase dan penanganan banjir yang selama bertahun-tahun diabaikan.
Kami membeli rumah untuk hidup tenang, bukan untuk berhadapan dengan banjir setiap tahun dan kehilangan seluruh tabungan kami, ujar salah satu warga yang merasa dirugikan.
Tanpa adanya solusi infrastruktur yang serius dari pengembang atau intervensi pemerintah setempat, dikhawatirkan jumlah rumah yang ditinggalkan akan terus bertambah, menjadikan Bali Resort Rawa Kalong sebagai potret buram kegagalan manajemen properti di wilayah Bogor.
Redaksi
