![]() |
| Foto: (Dari kiri) Dr. Veranus Sidharta Pass P., M.I.Kom, bersama Rendi (Redaktur GlobalNewsNetwork.id) di kawasan Bekasi. |
BEKASI, 16 Mei 2026, globalnewsnetwork.id – Di tengah ketatnya syarat kelulusan akademik dan kewajiban Tridharma Perguruan Tinggi, publikasi jurnal internasional kerap menjadi 'momok' menakutkan bagi kalangan mahasiswa tingkat akhir maupun dosen. Namun, tahukah Anda bahwa ada strategi khusus agar naskah penelitian (manuscript) tidak berujung pada penolakan (reject) dari editor?
Ditemui di sela-sela kesibukannya memberikan bimbingan tesis kepada sejumlah mahasiswa di kawasan Bekasi, Dr. Veranus Sidharta Pass P., M.I.Kom, seorang akademisi dan pakar ilmu komunikasi, membagikan pandangannya terkait fenomena ini.
Menurut Dr. Veranus, kesalahan terbesar yang sering dilakukan peneliti pemula bukan pada kurangnya data, melainkan pada ketidakmampuan mengemas narasi penelitian agar terlihat orisinal dan memiliki dampak signifikan (significance of the underlying work).
Banyak mahasiswa atau peneliti pemula yang datanya sebenarnya sangat bagus, tapi gagal di tahap awal karena angle penelitiannya kurang tajam atau tidak relevan dengan isu global. Jurnal internasional sangat menyukai penelitian yang berdampak langsung, misalnya riset mengenai strategi komunikasi digital, fenomena sosial-ekonomi masyarakat, ujar Dr. Veranus secara eksklusif kepada globalnewsnetwork.id.
Untuk menembus jurnal bereputasi, Dr. Veranus membeberkan bahwa sebenarnya ada pola konkret yang bisa langsung diterapkan oleh para peneliti. Pertama, ia menyoroti kebiasaan literasi yang sering keliru. "Banyak yang rajin download referensi dari jurnal-jurnal internasional bereputasi, tapi berhenti sampai di situ. Kuncinya adalah referensi itu harus dibaca dengan cermat, dibedah strukturnya, jangan cuma diunduh lalu ditumpuk di dalam folder komputer," tekannya.
Pola selanjutnya yang menjadi 'jalan pintas' ampuh adalah memperluas jaringan melalui kolaborasi (co-authorship). Dr. Veranus menyarankan agar peneliti pemula berani menggandeng pihak luar.
"Pihak publisher atau penerbit jurnal global itu sangat menyukai naskah artikel yang dikerjakan secara lintas institusi. Mulailah berkolaborasi dengan mahasiswa atau akademisi dari kampus luar negeri. Selain itu, Anda juga bisa collabs dengan beberapa mahasiswa Indonesia yang sedang mengambil studi di perguruan tinggi internasional. Kolaborasi semacam ini akan sangat mendongkrak kredibilitas tulisan dan menunjukkan bahwa riset tersebut memiliki perspektif yang luas," tambahnya.
Lebih lanjut, ia juga menekankan pentingnya pendampingan (mentoring) yang intensif antara dosen pembimbing dan mahasiswa. Menurutnya, riset yang sukses menembus jurnal internasional seringkali lahir dari kolaborasi pemikiran yang matang di dalam kampus itu sendiri.
"Bimbingan itu bukan sekadar formalitas tanda tangan. Di situlah kita mengasah technical quality dan clarity of expression dari sebuah tulisan. Saat reviewer dari luar negeri membaca, mereka harus bisa langsung menangkap kebaruan (novelty) dari riset tersebut tanpa terhalang oleh struktur bahasa yang membingungkan," tegasnya.
Bagi mahasiswa yang sedang menunggu proses peer-review atau sedang dalam tahap pengecekan draf akhir (galley proof), Dr. Veranus mengingatkan satu aturan emas: ketelitian. Kesalahan kecil seperti keliru mengurutkan nama penulis, asal institusi, hingga salah penempatan tabel bisa menghambat proses publikasi.
Di akhir sesi bimbingannya, Dr. Veranus berpesan agar para akademisi tidak mudah menyerah ketika naskah dikembalikan dengan banyak catatan revisi. "Direvisi oleh reviewer itu hal yang lumrah, bahkan wajar. Evaluasi dari mereka justru menjadi bukti nyata bahwa artikel kita dihargai dan dibaca secara serius. Kuncinya adalah konsistensi," tutupnya sambil kembali menyapa para mahasiswa bimbingannya.
Bagi Anda para pejuang skripsi, tesis, desertasi maupun dosen yang sedang mengejar target publikasi, saatnya merapikan kembali manuskrip Anda. Pastikan orisinalitas riset, literasi yang kuat, dan strategi kolaborasi menjadi senjata utama Anda menembus jurnal global!
(Penulis/Editor: Rendi / Redaksi Global News Network)
