![]() |
| Visual: Ilustrasi AI / Globalnewsnetwork.id |
GLOBALNEWSNETWORK.ID — Stroke selama ini kerap dianggap sebagai penyakit yang hanya mengancam kelompok lanjut usia. Namun, data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa stroke juga ditemukan pada kelompok usia muda, sehingga faktor risiko stroke perlu mendapat perhatian sejak usia produktif.
Berdasarkan SKI 2023, prevalensi stroke berdasarkan diagnosis dokter pada penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas mencapai 8,3 per mil. Jika dilihat berdasarkan kelompok usia, stroke tercatat sebesar 0,1 per mil pada usia 15–24 tahun, 0,5 per mil pada usia 25–34 tahun, dan meningkat menjadi 2,0 per mil pada usia 35–44 tahun. Angka tersebut menunjukkan bahwa stroke memang dapat terjadi sebelum seseorang memasuki usia lanjut. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia)
Faktor Risiko Mulai Muncul di Usia Muda
Salah satu persoalan yang perlu diperhatikan adalah munculnya berbagai faktor risiko penyakit tidak menular pada usia yang semakin muda. Kementerian Kesehatan mencatat bahwa hipertensi juga ditemukan pada kelompok usia muda.
Dalam SKI 2023, prevalensi hipertensi berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah mencapai 10,7% pada kelompok usia 18–24 tahun dan 17,4% pada usia 25–34 tahun. Sementara berdasarkan diagnosis dokter, angkanya lebih rendah, masing-masing 0,4% dan 1,8%. Perbedaan tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara kondisi yang terukur dengan pengetahuan masyarakat mengenai status kesehatannya. (Badan Kebijakan Kesehatan)
Padahal, hipertensi merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko stroke. Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa hipertensi sering tidak menimbulkan gejala sehingga seseorang dapat merasa sehat meskipun tekanan darahnya sudah tinggi. (Badan Kebijakan Kesehatan)
Gaya Hidup Menjadi Perhatian
Pada usia muda, sejumlah kebiasaan sehari-hari dapat berkontribusi terhadap munculnya faktor risiko penyakit kardiovaskular. Pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, merokok, konsumsi alkohol, kelebihan berat badan, serta tekanan darah tinggi merupakan beberapa faktor yang perlu diperhatikan.
WHO juga menyebut pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, penggunaan tembakau, dan konsumsi alkohol berlebihan sebagai faktor perilaku utama yang berhubungan dengan penyakit jantung dan stroke. Faktor tersebut dapat berkontribusi terhadap tekanan darah, kadar gula darah, kadar lemak darah, serta kelebihan berat badan. (Organisasi Kesehatan Dunia)
Kementerian Kesehatan juga menegaskan bahwa faktor risiko stroke yang dapat dimodifikasi antara lain hipertensi, diabetes, penyakit jantung, kurang aktivitas fisik, obesitas, merokok, dan konsumsi alkohol. (Keslan Kemenkes)
Stroke pada Usia Muda Bukan Sekadar Angka
Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan pada 2024 bahkan mengangkat secara khusus tema “Anak Muda dan Risiko Stroke”. Dalam kegiatan tersebut, dokter dari Rumah Sakit Pusat Otak Nasional menyampaikan bahwa risiko stroke kini juga perlu diperhatikan pada usia yang lebih muda dan mengaitkannya antara lain dengan pola hidup seperti konsumsi minuman manis berlebihan, pola tidur tidak teratur, kurang olahraga, serta merokok atau penggunaan vape. (Keslan Kemenkes)
Karena itu, munculnya stroke pada kelompok usia muda perlu dilihat bukan hanya dari sisi usia, tetapi juga dari faktor risiko yang sudah berkembang sejak jauh sebelumnya.
Jangan Menunggu Gejala
Salah satu tantangan dalam pengendalian faktor risiko adalah banyak kondisi seperti hipertensi dan kolesterol tinggi dapat berlangsung tanpa gejala yang jelas. Pemeriksaan kesehatan secara berkala menjadi penting untuk mengetahui kondisi tekanan darah, gula darah, berat badan, dan faktor risiko lainnya.
Masyarakat juga perlu mengenali tanda-tanda stroke. Kementerian Kesehatan menggunakan tanda yang antara lain berupa wajah mencong, kelemahan anggota tubuh secara tiba-tiba, serta gangguan bicara. Jika gejala tersebut muncul secara mendadak, pertolongan medis harus segera dicari. (Keslan Kemenkes)
Data SKI 2023 pada akhirnya memberikan pesan penting: stroke memang lebih banyak ditemukan pada kelompok usia yang lebih tua, tetapi usia muda bukan berarti bebas dari risiko. Pengendalian faktor risiko sejak usia produktif menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi risiko stroke di kemudian hari.
Penulis: Rendi
Kementerian Kesehatan RI, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. (Badan Kebijakan Kesehatan)
Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI, Bahaya Hipertensi Mengintai Anak Muda Indonesia. (Badan Kebijakan Kesehatan)
Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan RI, Anak Muda dan Risiko Stroke. (Keslan Kemenkes)
World Health Organization, Cardiovascular Diseases. (Organisasi Kesehatan Dunia)
