![]() |
| Dok: Istimewa |
JAKARTA – Pemandangan menarik tersaji pada upacara peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia di Istana Negara, Senin (17/8/2026). Perhatian publik banyak tertuju pada keakraban Presiden Prabowo Subianto yang diapit oleh Presiden ke-7 RI Joko Widodo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Namun, di balik momen keakraban tersebut, ada fakta menarik mengenai keluwesan Presiden Prabowo yang secara spontan meminta penyesuaian tata letak kursi kenegaraan.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengungkapkan bahwa formasi duduk sejajar—di mana Prabowo berada persis di tengah Jokowi dan Gibran—sejatinya adalah situasi yang mengalir secara natural dan situasional, bukan murni dari rancangan awal protokol Istana.
Menurut Prasetyo, suasana protokoler yang biasanya kaku seketika menjadi cair ketika rangkaian upacara memasuki sesi demonstrasi pesawat tempur dan pertunjukan kesenian. Presiden Prabowo secara khusus meminta agar susunan tempat duduk sedikit diubah dan dimajukan agar para pemimpin negara bisa menikmati atraksi di langit Jakarta dengan lebih jelas.
"Bapak Presiden sebagaimana biasa memberikan penghormatan, sehingga tadi tempat duduk, terutama pada saat menyaksikan demo udara maupun pertunjukan kesenian, minta juga diubah sehingga ada beberapa yang maju ke depan. Situasional itu kita sesuaikan," ungkap Prasetyo di Istana Merdeka, Jakarta.
Selain karena permintaan penyesuaian posisi, momen "trio" ini terjadi secara kebetulan karena Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri dan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berhalangan hadir. Praktis, Joko Widodo menjadi satu-satunya mantan presiden pendahulu yang berada di lokasi. Menghormati kehadiran Jokowi, kursi pun disesuaikan sedemikian rupa sehingga ketiganya bisa duduk berdampingan tanpa sekat.
Di sela-sela gemuruh mesin pesawat tempur, ketegangan khas upacara kenegaraan pun luntur. Prabowo, Jokowi yang tampil gagah dengan pakaian adat Bali, serta Gibran yang mengenakan baju adat Nusa Tenggara Timur (NTT) tampak asyik berbincang, tertawa bersama, dan beberapa kali bertepuk tangan layaknya kawan lama yang sedang menonton pertunjukan.
Kedekatan emosional ini diakui Prasetyo memang sudah terjalin lama. Ia bahkan menyebut hubungan antar-tokoh ini tidak lagi sebatas urusan kenegaraan, melainkan persahabatan sejati. "Selama ini beliau dengan Presiden Jokowi akrab, dan kadang di media sosial menyebutnya bestie juga. Ya seharusnya begitu memang," pungkas Prasetyo.
Momen perayaan kemerdekaan ke-81 RI kali ini tidak hanya menunjukkan parade kekuatan militer, tetapi juga memberikan pesan visual yang kuat tentang transisi kepemimpinan yang harmonis serta gaya kepemimpinan Prabowo yang lebih santai dan tak kaku pada aturan protokoler.
Redaksi
