-->
  • Iklan

    https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjnM3pf2KJHa3DZeOBiShlTyvU9PKftJOsuxLrHVGy4R1kK_u8qf_0IQR2s9bqTylPmjRvh9ZmMt_RKvJMAkNB7G4owYYh3MTDXLhu95fE0aOCAiBtgMZMY25-YkHdcGHQIKzhVbca95DfkSsdo-V5PUf51MoCRneCvg_z2LfIcAxgsObyI1S1Dgl5tReY9/w640-h83/17%20agustus.png

    BRIN Buka-bukaan soal Ambulans Terbang Prabowo, Sudah Sejauh Mana?

    Selasa, 18 Agustus 2026, Agustus 18, 2026 WIB

    Ide "ambulans terbang" yang dilontarkan Presiden Prabowo Subianto ternyata bukan sekadar wacana di atas kertas. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengaku tengah mematangkan dua jenis pesawat yang digadang-gadang bakal jadi tulang punggung program ini: N219 dan varian amfibinya, N219A.


    Dari Pidato Kenegaraan ke Meja Kerja BRIN


    Gagasan ambulans udara pertama kali disampaikan Prabowo saat membacakan Pengantar/Keterangan Pemerintah atas RUU APBN 2027 pada 14 Agustus 2026. Ia menyoroti kondisi warga di pelosok yang harus menempuh perjalanan 7-9 jam demi mengakses layanan kesehatan, termasuk ibu hamil yang butuh pertolongan persalinan darurat.


    "Kita juga akan membuat ambulans udara dengan helikopter dan pesawat kecil yang bisa mendarat di lapangan rumput, lapangan pasir, dan bisa mendarat di pinggir sungai, supaya tidak ada rakyat kita yang tidak bisa dievakuasi kalau dia sakit," kata Prabowo kala itu.


    Tak berselang lama, BRIN langsung merespons. Kepala BRIN Arif Satria menyebut lembaganya bersandar pada "keunggulan teknologi kedirgantaraan nasional" untuk mewujudkan visi tersebut, dengan menggarap ekosistem pesawat N219 dan N219A.


    Kenapa Harus N219?

    N219 bukan pesawat baru, pesawat ini hasil kolaborasi BRIN dengan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) yang sudah dikembangkan selama bertahun-tahun. Yang membuatnya relevan untuk misi evakuasi medis adalah teknologi Short Take-Off and Landing (STOL), yang memungkinkan pesawat lepas landas dan mendarat di landasan pendek, cocok untuk daerah terpencil yang minim infrastruktur bandara.


    Sementara N219A, varian amfibinya, punya keunggulan lain: bisa mendarat dan lepas landas langsung di atas air. Kombinasi keduanya membuat armada ini secara teori mampu menjangkau wilayah kepulauan dan pelosok yang selama ini sulit diakses lewat jalur darat maupun laut.


    Bukan Cuma Buat Ambulans, Ada Drone Pengintai Juga

    Menariknya, BRIN tidak berhenti di pesawat berawak. Mereka juga tengah mengembangkan Pesawat Udara Nirawak (PUNA) MALE, drone yang diklaim mampu terbang hingga 24 jam nonstop dengan jangkauan kendali jarak jauh (Beyond Line of Sight) sekitar 2.000 kilometer.

    Menurut Arif, platform ini dirancang untuk misi yang lebih luas ketimbang sekadar evakuasi medis, mulai dari pemantauan wilayah sampai dukungan logistik darurat.

    Platform nirawak berdaya jelajah tinggi ini memberikan sistem yang mandiri dan andal untuk berbagai misi kritis, dari pemantauan taktis hingga proyeksi logistik darurat pada masa depan," ujarnya.


    Masih Ada Pekerjaan Rumah

    Di atas kertas, rencana ini terdengar menjanjikan. Tapi seperti proyek kedirgantaraan lain di Indonesia, jarak antara "ekosistem sedang dimatangkan" dan pesawat benar-benar beroperasi di lapangan biasanya tidak sebentar. Publik pun wajar menagih detail lanjutan: kapan armada ini mulai beroperasi, berapa unit yang akan diproduksi, berapa anggaran yang dibutuhkan, dan siapa yang akan mengoperasikannya di lapangan, pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab dalam pernyataan BRIN maupun Presiden Prabowo sejauh ini.


    Yang jelas, untuk pertama kalinya pemerintah punya jawaban konkret ketika ditanya soal alat: N219 dan N219A. Tinggal dilihat apakah janji itu benar-benar mendarat, atau justru ikut terparkir seperti sejumlah proyek kedirgantaraan nasional sebelumnya.




    Achmad Reyhan Dwianto

    Komentar

    Tampilkan

    • BRIN Buka-bukaan soal Ambulans Terbang Prabowo, Sudah Sejauh Mana?
    • 0