
Ilustrasi penyintas stroke menonton tayangan kesehatan di televisi. (Ilustrasi AI)
JAKARTA, GlobalNewsNetwork.id — Tayangan kesehatan di televisi ternyata tidak hanya berfungsi sebagai sumber informasi. Bagi penyintas stroke, informasi yang disampaikan melalui program kesehatan dapat menjadi petunjuk untuk memahami kondisi tubuh sekaligus membantu menjalani perubahan gaya hidup setelah mengalami stroke.
Temuan tersebut terlihat dalam penelitian berjudul “Television as a Sensemaking Cue in Post-Stroke Recovery: Stroke Survivors' Interpretations of Health Messages in a Community-Based Rehabilitation Setting”. Penelitian ini mengkaji bagaimana penyintas stroke memaknai pesan kesehatan dari program televisi Go Healthy di Metro TV dalam konteks rehabilitasi berbasis komunitas.
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif interpretatif dengan perspektif sensemaking dari Karl E. Weick. Dalam pendekatan ini, seseorang tidak dianggap sebagai penerima informasi yang pasif. Sebaliknya, individu memilih informasi tertentu, menghubungkannya dengan pengalaman pribadi, kemudian memberikan makna yang dianggap masuk akal untuk diterapkan dalam kehidupannya.
Stroke Mengubah Banyak Hal dalam Kehidupan
Penelitian tersebut melihat stroke bukan hanya sebagai persoalan medis. Setelah mengalami stroke, seseorang dapat menghadapi perubahan pada kondisi fisik, rutinitas sehari-hari, hubungan sosial, identitas diri hingga harapan terhadap proses pemulihan.
Karena itu, kebutuhan informasi penyintas stroke tidak berhenti pada pengetahuan mengenai penyakit dan pengobatan. Mereka juga membutuhkan informasi praktis mengenai pola makan, aktivitas fisik, kepatuhan menjalani pengobatan, istirahat, pengelolaan emosi dan stres.
Dalam kondisi tersebut, televisi masih memiliki posisi penting sebagai salah satu sumber informasi kesehatan. Penelitian mencatat bahwa televisi menawarkan informasi audiovisual yang relatif mudah diakses dan familiar, terutama bagi kelompok dewasa dan lanjut usia yang belum tentu memiliki kemampuan digital yang sama.
Penyintas Tidak Menelan Semua Informasi
Salah satu temuan penting penelitian adalah bahwa penyintas stroke tidak otomatis menerima seluruh informasi yang disampaikan televisi. Mereka justru memilih bagian-bagian tertentu yang dianggap paling relevan dengan kondisi dan kebutuhan mereka.
Penelitian menemukan beberapa “cues” atau petunjuk informasi yang paling diperhatikan, antara lain penjelasan dokter, penggunaan bahasa medis yang mudah dipahami, penyampaian informasi yang runtut, serta pesan yang dapat ditonton kembali.
Dari Layar Televisi ke Kebiasaan Sehari-hari
Komunitas Membantu Memperkuat Pesan
Menariknya, proses memahami pesan kesehatan ternyata tidak berlangsung sendirian.
Di dalam komunitas, informasi yang diperoleh dari televisi dapat dibicarakan kembali. Penyintas dapat membandingkan pengalaman, mendiskusikan pesan kesehatan dan melihat bagaimana anggota lain menerapkan informasi tersebut.
Kondisi ini membuat komunitas berperan sebagai ruang untuk memvalidasi makna dari pesan kesehatan.
Pesan yang Diingat Bisa Menjadi Rutinitas
Ketika pesan kesehatan dianggap relevan, masuk akal dan mudah diterapkan, pesan tersebut dapat terus diingat dan digunakan kembali.
Penelitian menyebut proses ini sebagai retention, yakni ketika makna yang telah dipilih dan dianggap masuk akal kemudian disimpan, diulang dan digunakan sebagai dasar tindakan berikutnya.
Dalam kehidupan sehari-hari, hal tersebut dapat muncul dalam bentuk kebiasaan mengurangi garam, berolahraga secara teratur, mengelola emosi atau mengingat waktu minum obat. Pada tingkat komunitas, pesan kesehatan bahkan dapat berkembang menjadi norma bersama mengenai pentingnya mempertahankan gaya hidup sehat.
Dari Pasien Menjadi Penyintas yang Aktif Memulihkan Diri
Temuan lain yang menarik berkaitan dengan perubahan identitas. Setelah mengalami stroke, seseorang yang sebelumnya merasa sehat, mandiri dan produktif dapat mengalami perubahan cara memandang dirinya. Dalam proses pemulihan, pesan kesehatan dapat membantu membangun identitas baru sebagai seseorang yang masih memiliki kemampuan untuk berusaha dan menjalani proses pemulihan.
Pada akhirnya, penelitian ini menggambarkan proses yang berlangsung secara bertahap. Stroke menjadi peristiwa yang mengubah kehidupan. Televisi kemudian memberikan berbagai petunjuk kesehatan. Penyintas memilih informasi yang dianggap relevan, menilai apakah informasi tersebut masuk akal, mencoba menerapkannya, mendiskusikannya dengan lingkungan sosial, mempertahankannya sebagai kebiasaan, lalu membangun identitas baru sebagai penyintas yang sedang menjalani proses pemulihan.
Penelitian menyimpulkan bahwa penyintas stroke tidak memandang pesan kesehatan dari Go Healthy sebagai informasi yang diterima secara pasif. Pesan tersebut dapat menjadi panduan yang membantu mereka memahami kembali kehidupan setelah stroke, selama informasi yang diberikan mudah dipahami, kredibel, relevan dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, televisi dalam konteks pemulihan stroke bukan sekadar media penyampai informasi. Ia dapat menjadi bagian dari ekosistem komunikasi kesehatan yang membantu penyintas memahami kondisi dirinya, berdiskusi dengan komunitas dan secara bertahap membangun kebiasaan hidup yang mendukung proses pemulihan.
Article :
Rendi, R., Pandji, S. W., & Veranus, S. (2026). Television as a Sensemaking Cue in Post-Stroke Recovery: Stroke Survivors' Interpretations of Health Messages in a Community-Based Rehabilitation Setting. https://doi.org/10.5281/zenodo.22009110